The End Of Dreams











Dimana kamu Aiara?


Kamu memang bebas. Aku ingatkan sekali lagi padamu Aiara, bahwa kamu samasekali tidak terkekang. Kamu bebas mengatakan apapun yang kamu ingin katakan, padaku. Tapi jangan pada Dunia, Aiara. Dunia akan mempengaruhimu dengan akal licik mereka, dan menginginkan kehidupanmu hancur, agar kamu tidak dapat menceritakan mimpimu lagi padaku.



Aku ingin kamu tidak menyembunyikan apapun. Kamu merasakan sesuatu, tolong katakan itu, sebelum semuanya terlambat. Sekecil apapun masalah itu, tolong katakan itu agar kamu lega. Agar kamu dapat bermimpi indah dimalam harinya.


Tapi aku tidak menyangka kamu tidak mendengarkan aku.


Mengapa kamu tidak mengatakan kalau kamu tidak memiliki mimpi yang sama denganku?


Aku memang tidak perlu mengetahui itu, karena itu adalah rahasia antara kamu dan Tuhan yang sering kalian bicarakan didalam lampu kamar yang gelap, dalam sebuah doa.

Memang ada beberapa hal yang sangat kamu jaga, dan hanya kau dan Tuhan yang tahu itu. Sebab aku tidak berhak memaksamu.


Tapi semuanya tergantung apakah kamu memprioritaskan diriku untuk tahu itu.


Tapi mengapa aku akhirnya mengetahuinya, dengan cara yang amat menyakitkan?


Hari hari yang kita jalani penuh dengan kepalsuan. Kukira selama ini kamu mau memilihku, untuk melengkapi tangismu, candamu, opinimu, menjadi sebuah mimpi yang sempurna. Namun tidak Aiara. Kamu tetap mencari orang-orang yang kamu anggap bisa, dan bukannya pergi mencariku. Mereka tidak bisa memahami mimpimu, sebab mereka hanya bisa mendengarmu.


Tuhan tahu mimpiku. Mimpiku adalah untuk bersamamu. Tuhan pasti juga tahu mimpimu. Namun mimpimu, bukan untuk bersamaku. Kamu tidak memiliki mimpi yang sama denganku.


Sehingga kamu memaksaku untuk berjuang sendirian.


Aku kira kisah kita akan berakhir indah.


Aku kira kisah kita berakhir indah saat kita rela mengakhiri hubungan ini untuk kebaikan kita berdua, tanpa ada luka, tanpa ada goresan pada hati yang sudah terlanjur tersayat.


Aku kira kisah kita akan berakhir dengan tangis bahagia, dengan dekapan yang lembut, terucap janji antara kita untuk saling menjaga diri, tentunya dengan senyuman terindah yang pernah kita miliki. Bukan kita yang mengakhiri kisah ini. Hidup telah memilih untuk memisahkan kita, namun kamu tetap percaya bahwa jika kita memang ditakdirkan untuk bersama, suatu hari kita akan dipertemukan Tuhan disaat yang tepat, dan dengan cara yang hebat.


Tapi aku tidak percaya. Maaf.

Sekali lagi, aku tidak percaya itu, Aiara. Aku tidak percaya pria yang kamu maksudkan adalah aku.


Sehingga kamu memaksaku untuk merasakan luka, tapi tidak berdarah.


Kita saling meminta maaf, karena kita tahu diantara kita pasti ada yang memiliki kesalahan. Tapi Tuhan ternyata ingin membawa kita ke tahap yang lebih tinggi, yang diawali dengan tahap pertama yang dibalut oleh perih dan rasa sakit. Tapi ini semua masih tidak terasa adil bagiku.


Setidaknya aku sudah meminta maaf. Aku sudah katakan padamu, tolong maafkan segala perbuatanku yang membuatmu melakukan itu. Keputusanmu membuatku kecewa, sakit hati, namun aku juga sudah menduganya dari awal.


Aku tidak memiliki alasan APAPUN untuk membencimu, karena kamu juga sudah meminta maaf. Walau aku tahu, akulah yang salah, dan selalu berakhir dengan aku yang mengalah. Tapi alasanmu sungguh membuatku penasaran.


Apa kesalahanku?


Apa karena aku terlalu baik untukmu? Apa aku tidak pantas bersamamu? Apa aku tidak mampu menghadirkan konflik yang cukup membuat kita bisa mengatasi itu, dan membuat kita semakin kuat? Apa aku terlalu kaku untuk jatuh cinta?


Aiara, aku cukup terkejut ketika kamu mengatakan kamu tidak merasa nyaman bersamaku.


Mengapa? Itu adalah alasan yang terdengar tidak masuk akal untukku. Aku pernah menceritakan mimpiku padamu, kalau kita akan mencoba untuk membiasakan diri. Kamu tahu Aiara? Selama kita menjalani ‘hubungan palsu’ ini, aku selalu mencoba untuk membiasakan diri. Tetapi kamu terlihat tidak berusaha untuk membuka diri.


Kamu selalu membiarkan aku untuk berjuang sendirian.


Dari awal aku seharusnya tahu, kamu memang memaksaku untuk berjuang sendirian.


Berjuang sendirian itu sakit, Aiara. Apalagi saat diakhir, aku menyadari ternyata perjuangan itu samasekali tidak dihargai, dan hanya dibalas dengan kata maaf, yang kutahu itu tidak pernah cukup.


“Jika ada seseorang yang menanyakan padaku, saat nenekmu meninggal dunia pada tanggal 20 Mei 2015 kemarin, dari skala 1-10, berapa rasa sakit yang kau rasakan pada saat itu?”


Aku akan menjawab “9”


Kamu tahu, Aiara? Itu karena aku menyimpan rasa sakit yang ke-10. Saat itu, saat kamu memutuskan untuk mengakhiri semua ini.


Aku memang merasakan perih. Sangat dalam. Kamu mungkin tidak merasakan sakit, Aiara. Karena kamu memang tidak memiliki rasa apapun. Kamu hanya bisa meminta maaf. Kamu pun tahu, satu kata maaf tentunya tidak mampu menghapus luka yang kamu berikan padaku.


Namun aku senang kamu meminta maaf, walau bukan kamu yang salah. Aku yang salah. Aku terlalu memperjuangkan kamu. Aku ternyata memperjuangan orang yang salah.


Tapi kamu tahu, Aiara? Keputusanmu mengakhiri ini, ternyata menimbulkan pelangi dibalik awan badai. Awalnya aku merasa sangat terpukul, namun setelah aku mencoba untuk berfikir dengan jernih, ini memang keputusan terbaik untuk kita.


Kita bisa kembali ke dunia kita masing-masing.


Kamu dan aku, kembali mengejar mimpi yang sempat tertunda.


Kita bisa menyembuhkan diri kita masing-masing, dengan jatuh cinta lagi. Tapi aku harap kita tidak saling mengetahui itu.


Aku sangat bersyukur. Mengapa?


Aku berusaha untuk membuat setiap tulisanku berakhir indah, walau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Aku mencintaimu, namun kamu tidak. Mimpiku untuk bersamamu, namun mimpimu tidak demikian.


Andaikan saja kita menjalani hubungan ini, dalam hitungan minggu, bulan, tahun, apakah kamu akan merasa nyaman, tanpa ada rasa didalam hatimu untuku?


Perasaan tidak dapat dipaksakan.


Aku akan lebih merasakan sakit yang lebih hebat, jika kamu mengakhiri ini disaat kita sudah sangat nyaman, namun ternyata kenyataannya kamu tidak pernah memiliki rasa untukku. Aku sangat bersyukur saat menyadari semuanya ternyata belum terlambat.


Sekarang, aku kira kamu masih bisa menceritakan mimpimu lagi padaku. Meskipun rasa canggung kembali menghampiri kita berdua, dan rasa perih menjadi penghalang diantara kita untuk bertemu, sebagai seorang teman baik. Sebagai seorang teman, aku sangat senang apabila kamu senang.

Tapi jangan heran, jika aku memang butuh waktu untuk membiasakan diri, bahkan mungkin tak akan pernah bisa.


Aiara, aku minta kamu jangan kamu berpaling dariku, jika aku tidak menyadari diriku bergabung bersama ‘mereka’, bersama Dunia, dimana kami hanya bisa mendengarkanmu.


Dimana aku dan Dunia tidak bisa memahamimu.


Tapi aku tetap mempunyai satu mimpi, yang Tuhan tahu itu.


Aku harap kamu menemukan pria yang lebih baik dariku, pria yang tidak bersembunyi darimu saat kamu membutuhkannya.


Dia yang bisa melipat tangannya dengan manis,sambil duduk dibawah rindangan pohon, disampingmu sambil memegang jemarimu, lalu mendengarkan opinimu, tangismu, candamu yang dia tahu, itu adalah sempurna.


Dia yang selalu berusaha untuk menyimpan uang sakunya agar bisa memberikanmu sesuatu yang membuatmu berterima kasih untuknya. Dia yang tak perduli persepsimu padanya, hingga selalu melakukan hal yang konyol agar membuatmu tersenyum. Dia yang selalu ada disaat kamu sendiri, mendekapmu dalam hangat, bahkan disaat seluruh Dunia tidak ada yang mau mendengarkanmu. Hingga kamu merasa tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan dia.


Aku harap kamu menemukan dia, yang lebih dariku.


Dia yang selalu berdiam diri didalam sepi, didalam lampu kamarnya yang gelap, berdoa kepada Tuhan-nya sambil mengingat kamu. Bahkan dia tidak berani untuk menyebutkan namamu didalam percakapannya dengan Tuhan-nya, dan selalu menggantikan namamu dengan ‘Orang-orang yang kusayangi’agar kamu termasuk didalamnya.


Aku sangat berharap kamu menemukan Dia, yang selalu berkata


“Tuhan, kiranya engkau melindungi orang-orang yang kusayangi”


didalam doanya.


Dia akan mencintaimu, seperti tak akan ada yang bisa mencintaimu. Dia akan selalu memelukmu, disaat tidak ada orang lain yang bisa memelukmu. Dia akan mencintaimu, karena dia merasa kamu begitu layak untuk dicintai.


Aku yakin jika kamu memperjuangkan cintamu dengan dia, kalian akan sangat berbahagia di masa depan. Disana tidak ada kata akhir, disana tidak ada juga perpisahan.


Tuhan tahu kamu akan mencintai dia yang mencintaimu. Tuhan juga tahu kamu akan memperjuangkan dia yang memperjuangkanmu.


Tapi aku tidak tahu itu, karena inilah akhir kisah kita.


Tidak ada lagi kata Aiara. Tuhan tahu aku tidak ingin menyebutkan nama itu lagi.


Aku mengira kisah kita akan berakhir indah di Bandara, Aiara.
إرسال تعليق (0)
أحدث أقدم